<$BlogRSDUrl$>

Friday, October 31, 2003

Bapak R. SUHARDJO (Seturan Yogyakarta),
Epistoholik Indonesia mengucapkan terima kasih untuk kiriman surat dan atensi Anda. Selamat bergabung pula dalam keluarga Epistoholik Indonesia !


“Saya sangat tertarik dan mendukung ide dan gagasan Bapak ini, makanya saya secara spontan ingin ikut bergabung (namun kepastiannya nanti bila saya memenuhi syarat-syaratnya) walau pun saya sangat awam dalam kegiatan tulis-menulis, apalagi sampai disebut epistoholik”, demikian awal surat yang ditulis Bapak R. Suhardjo (23/10/2003).

“Saya memang pernah menulis surat pembaca, kolom “Bebas Bicara” di surat kabar Bernas (Yogyakarta), tetapi sifatnya hanya iseng-iseng saja. Jadi kalau dimuat tidak saya catat dan korannya tidak saya simpan. Salah satu contoh tulisan saya yang pernah dimuat adalah : (1) “Masyarakat Yang Jadi Korban”, isinya mengenai heboh pungli besar-besaran di parkiran kota Yogyakarta, dan (2) “Kebohongan Dari Hulu Sampai Hilir”, mengenai heboh Bulogate II, 40 milyar ditilep Akbar Tanjung.”


Catatan Bambang Haryanto (pengelola situs Epistoholik Indonesia/E-mail : epsia@plasa.com) :

“Surat Bapak sangat menarik ! Demikian pula contoh topik surat pembaca yang pernah Bapak tulis, menurut saya, sangat penting isinya. Karena relevan dengan keinginan kita sebagai warga RI untuk bergiat bersama-sama memerangi korupsi. Merujuk hal tersebut maka Epistoholik Indonesia (EI) dengan senang hati mempersilakan Pak Suhardjo untuk bergabung dalam jaringan Epistoholik Indonesia (EI) kita ini. Syarat untuk bergabung, adalah, saya himbau agar Bapak Soehardjo terus saja menulis surat pembaca. Topiknya, apa saja. Topik gerakan anti korupsi, seperti contoh tulisan Bapak, adalah topik yang sangat bagus untuk terus ditulis.

Agar karya Bapak itu tidak hilang (“bila hilang kan ilmu dari Bapak jadi sulit untuk ditularkan kepada orang lain”), seyogyanya karya-karya Bapak nanti: (1) naskahnya disimpan dalam disket, disertai data tanggal penulisan dan dikirim untuk koran apa, (2) bila dimuat, lalu dikliping, termasuk dicantumkan tanggal pemuatan dan koran yang memuatnya. Bila Pak Hardjo berkenan, EI nanti akan mendokumentasikan karya-karya Bapak itu dalam sebuah “album elektronik”, sehingga buah pikir Bapak dapat diakses oleh peminat dari mana pun di dunia ini. “


Terima kasih, untuk Redaksi Harian Solopos.

Catatan Bambang Haryanto (pengelola situs Epistoholik Indonesia/E-mail : epsia@plasa.com) :

Surat pembaca saya berisi informasi berupa ajakan dan himbauan agar pencinta aktivitas menulis surat pembaca di daerah Solo dan sekitarnya sudi bergabung dalam Epistoholik Indonesia (EI), telah dimuat di edisi Selasa, 28 Oktober 2003. Terima kasih, Solopos !


Terima kasih Pak MOEGONO, SH (Solo). Matur nuwun untuk kontak teleponnya dan untuk suratnya, yang saya terima 29/10/2003.

Catatan Bambang Haryanto (pengelola situs Epistoholik Indonesia/E-mail : epsia@plasa.com) :

Dalam suratnya, antara lain, Pak Moegono yang berprofesi sebagai pengacara, dosen dan penulis bebas, mengatakan : “Saya mengucapkan banyak terima kasih jika saya bisa masuk Jaringan Komunikasi Penulis Surat Pembaca yang Anda bentuk. Dengan demikian obsesi saya untuk menyebarkan virus mental, mendekati tujuan. Seperti gajah dan harimau, kalau mati ada sesuatu yang ditinggalkan untuk dikenang”.

Beliau yang kini berusia 67 tahun, menyatakan telah menulis artikel sebanyak 170 judul, dan 50 di antaranya sudah diterbitkan dalam bentuk buku SERAUT WAJAH HUKUM DAN MASYARAKAT INDONESIA (Jogya Offset, 1983). Sedang tulisan berupa surat pembaca lebih dari 200 tulisan.

Tulisan surat pembaca yang beliau nilai spektakuler berjudul “Kancil Pilek” (1987), “Wong Bisu Mangan Pare” (1992), dan “Goyang Bokong dan Pamer Udel : Firasat Apa ?” (Oktober 2003).

Saya sudah mendapat sedikit bocoran mengenai cerita di balik judul-judul tersebut. Kini kita nantikan seperti apa lengkapnya isi surat pembaca Pak Moegono yang sarat dengan sasmita atau tanda-tanda jaman itu.


Terima kasih Bapak SOEROYO (Solo). Matur nuwun untuk dukungan dan juga untuk surat balasan Bapak, yang saya terima 29/10/2003.


“Surat Anda 22 Oktober 2003, telah saya terima. Terima kasih atas perhatian Anda pada saya dan ternyata Anda mengenal saya lewat koran/suara pembaca. Ide Anda sangat bagus, saya setuju sekali”, demikian tulis Bapak Soeroyo.

“Pertama kali saya rajin membuat kliping surat saya yang dimuat di beberapa surat kabar. Namun akhir-akhir ini ada beberapa yang lepas. Sayang memang. Oleh karena itu, yang anda minta tanggal surat saya dimuat, sulit untuk dilacak”

“Pikiran saya tidak sejauh ide Anda, hanya sekadar hobi saja. Coba akan saya ungkap kembali kliping yang ada pada saya, bila mungkin akan saya kirimkan ke mari”

“Saya dukung ide Anda yang cemerlang. Dan selaku manula, saya tutwuri handayani saja. Bila perlu, akan memberikan masukan a la kadarnya.”


Catatan Bambang Haryanto (pengelola situs Epistoholik Indonesia/E-mail : epsia@plasa.com) :

Suatu saat nanti, memang ada rencana untuk meminta nasehat kepada beliau, antara lain mengenai hal-hal yang menarik dalam menekuni hobi menulis surat pembaca selama ini. Termasuk mencari tahu mengenai ketepatan beliau dalam menulis sesuatu isu yang sedang actual di masyarakat. Matur nuwun, Bapak Soeroyo atas dorongan Bapak yang tak ternilai harganya bagi kami.




Wednesday, October 22, 2003

Selamat datang Bapak Moegono, SH.
Selamat datang, Bapak Soeroyo !
Epistoholik Indonesia mengharap Bapak dapat berkenan memajang karya-karya cemerlang Bapak di situs ini, agar mampu sebagai sumber ide dan sumber panutan, bagi para epistoholik yunior Anda dan para pembaca.


Catatan Bambang Haryanto (pengelola situs Epistoholik Indonesia/E-mail : epsia@plasa.com) :

Kota Solo memiliki belasan epistoholik yang dedikasinya tidak usah diragukan. Terutama para epistoholik senior telah begitu lama menekuni aktivitas menulis surat-surat pembaca. Di antara para tokoh panutan itu adalah Bapak Moegono, SH, Bapak Soeroyo, Bapak R. Winarso S dan Bapak P. Sakty Nulyo Sumarah, SH. Aktivis epistoholik lainnya meliputi Ahmad YF (Sukoharjo), Drs. Gunawan Wibisono Adidarmodjo (Boyolali), Junardiono, SS (Sukoharjo) dan Drs. Ngadimin (Grogol, Solo Baru).

Untuk menghormati kiprah para epistoholik senior, secara khusus pada tanggal 22/10/2003 saya atas nama Epistoholik Indonesia (EI) telah berkirim surat kepada Bapak Moegono, SH dan Bapak Soeroyo. Isinya adalah mengundang kedua beliau untuk : (a) berkenan mengunjungi situs EI ini, dan (b) berkenan mengirimkan 10 (sepuluh) surat pembaca karya beliau untuk kami pajang di situs Epistoholik Indonesia ini.

Dengan perkenalan ini, saya berharap kedua beliau tertarik untuk membangun situs “museum maya” pribadinya sendiri, sebagai ajang pemajangan karya-karya surat pembacanya di situs seperti EI ini. Sehingga kearifan, niatan mulia dan gagasan cemerlang mereka dapat diakses oleh peminat dari seluruh dunia melalui Internet.

Anda pun juga mampu melakukan hal serupa.
Epistoholik Indonesia, bersedia membantu niatan mulia Anda !


Bapak F.S. HARTONO (Yogyakarta), Epistoholik Indonesia mengucapkan terima kasih untuk kiriman surat Anda. Prestasi, reputasi dan gaya menulis dari contoh surat pembaca yang Bapak lampirkan, membuat kami tidak mampu menolak Bapak untuk menjadi warga terhormat di EI.


Catatan Bambang Haryanto (pengelola situs Epistoholik Indonesia/E-mail : epsia@plasa.com) :

“Hingga sekarang sudah puluhan tahun saya keranjingan menulis uneg-uneg apa saja yang saya rasakan sendiri atau hasil temuan saya di lapangan atau di tengah masyarakat, atau bahkan menanggapi tulisan orang. Hingga sekarang tulisan saya telah terhimpun ratusan yang pernah dimuat di hampir seluruh media cetak terkemuka, nasional mau pun koran daerah. Malah ada yang dialihbahasakan ke dalam tulisan Mandarin”, demikian tulis Bapak F.S. Hartono dalam suratnya yang saya terima, Kamis, 23/10/2003.

Beliau lampirkan pula fotokopi surat beliau yang pernah dimuat di harian Media Indonesia, majalah Tempo, dan dua buah di harian Kedaulatan Rakyat.

Usul saya : mengingat surat Bapak Hartono terkirim dengan cetakan komputer (yang bagus), saya harapkan masih ada filenya dalam bentuk digital, baik di dalam harddisk atau disket. Dengan demikian, file-file itu nanti akan mudah dan cepat dikirimkan melalui e-mail, atau disket lewat pos, sehingga memudahkan EI untuk merancang museum maya pribadi guna memajang surat-surat pembaca karya Bapak F.S. Hartono selama ini di Internet nanti. Itu bila Bapak setujui.

Terima kasih, Bapak Hartono. Saya akan segera membalas surat Bapak.



Bapak RM. PRADIKO REKSOPRANOTO (Yogyakarta) dan DION DESEMBRIARTO (Yogyakarta), Epistoholik Indonesia berterima kasih atas sambutan dan tanggapan yang hebat dari Anda !

Catatan Bambang Haryanto (pengelola situs Epistoholik Indonesia/E-mail : epsia@plasa.com) :

Tanggal 17/10/2003 malam saya mengirimkan e-mail surat pembaca guna mempromosikan Epistoholik Indonesia/EI (seperti di bawah ini) ke Redaksi Harian Bernas Yogyakarta (bernas@bernas.info). Esoknya, e-mail tanggapan sudah datang dari Bapak Pradiko Reksopranoto (rm_pradiko@yahoo.com) dan peminat epistoholik Dion Desembriarto (desembriarto@hotmail.com) dari Yogyakarta. Kedua tanggapan itu menunjukkan, bahwa surat pembaca saya sudah muncul di Harian Bernas, 18/10/2003.

Terima kasih, Harian Bernas.
Terima kasih, romo Pradiko.
Terima kasih, Dion !

Bersama ini Epistoholik Indonesia dengan bangga memajang surat-surat pembaca yang dikirimkan oleh Bapak Rm. Pradiko Reksopranoto, yang merupakan seorang epistoholik senior dari Yogyakarta. Ketika tahun 1970-an, saat saya bersekolah di Yogyakarta, rasanya saya sudah membaca-baca surat pembaca beliau di koran-koran Yogyakarta.



SURAT-SURAT RM. PRADIKO REKSOPRANOTO (YOGYAKARTA).

‘Kata’-Penalties Go Surya SEA Games 2005 !

COKORSAWATI 13” x 6” Maluku Utara, selalu barefeeted, bermimpi :
“Sepakbola bisa kita ‘kawinkan’ dengan Judo atau Karate‘ sebagaimana Basketball & Volleyball dengan Tinju, berdasarkan atas tinggi-badan pemain-pemainnya. Serupa tinju berkelaskan bobot-badan petinjunya itu !

SURYA SEA Games 2005 : Ber IQ atau TQ > 170-an, dia ‘so pasti’: “SEA Games 2005 dapat kita selenggarakan cukup di kodia Surabaya ! Syarat uniknya, demo & lombakan New Events- nya saja ! Dengan ini, biaya Surya SEA Games (SSG) 2005 akan jauh lebih murah daripada PON XV tahun 2000 lalu --- tuan-rumah Jatim sebagai juara umum dan kantongi masing-masing >100 medali emas, perak & perunggu itu !”

Baik Judo maupun Karate punya Kata-Event nya --- alias tanpa berhadapan dengan lawan ! Perkawinan-nya dengan Adu Penalti = Precision Penalties (2 x 22 Kick misalnya) alias Adu Penalti Tanpa Kiper itu ! Di sini, makin mojok bola tendangannya makin baik skor diterima algojo suksesnya itu. Tapi ingat, kalau eksekusinya terlalu mojok alias outgoal, nilainya jatuh --- ke nol ! Justru di sinilah letak menarik dan ‘Contro-Scoring’ nya Kata Penalty Contest tersebut !

Tak jauh dari Kodia Kediri markas PT Gudang Garam dengan Pusat Litbang Pingpongnya terbesar & tercanggihnya se-ASEAN, tak belebihanlah manakala SSG 2005 dapat demo & konteskan Pingpong Balap ! Dengan alat tambahan berupa Gamewatch & Counter, frekuensi ulang-alik bola tujuan utama Pingpong Balap (PB) tersebut dapat kita catat prestasinya seeksak atletik, renang, balap-sepeda misalnya. Experimen PB sepintas tunjukkan, frekeunsi 140-150 pukulan semenitnya tak sulit dicapai kerjasama-mulus pemain-pemain pingppong menengah Nusantara !

Selain konteskan Catur & Bridge, SSG juga demokan bekerjanya SWISS Pingpong !! ***


RM Pradiko Reksopranoto,
Pencipta Bridge Wayang
Jl. Sultan Agung 65 & 69,
Wartel 69 Telefax 555933,
Yogyakarta 55111.
Tab. Mandiri 137.0088038977



Titi Karsa (Iqra) Temu Karsa :
Kirlian & Gumono Ungkap & Cekal Santet : Mengubah kawasan angker menjadi objek wisata spiritual.


RABU WAGE tengah-malam sampai Kamis Kliwon dini hari, 15-16 Oktober 2003 lalu, acara Topik (SCTV), praktis isu Santet Go KUHP !
Lagu lama kedua tamu-akbar tersebut, Prof. DR Muladi SH dan DR Adnan Buyung Nasution SH adalah titik-beratkan masih belum adanya teknologi eksak & thok-cer untuk deteksi santet !

Selaku inventor Klasindo Exorcist, Ir. Bambang Gumono (0274-375748) tandaskan, fenomena santet ( = P Plus ) dapat dengan mudah dideteksi via Elektro-Fotografi Kirlian. Selanjutnya, cara santet apa pun, berapa pun P-Plus nya, termasuk leak ganas Bali, mudah diganyang pancaran P-Min Klasindo Exorcist (= Gumono). Gunakan sedikit tenaga listrik PLN, dan harganya pun terjangkau. Dan dibantu Metal Detector, kami tidak sulit lagi temu-eksakkan lokasi harta-karun, terutama emas (Au) !!

Mencuat ASEAN-inya musibah Banyuglugur, Paiton Wetan ( barat Kab. Situbondo ) awal Oktober 2003 lalu yang sampai renggut 55 nyawa, justru justru merupakan blessing in disguise bagi penulis :

Rambu-rambu Gaib (RG) masuk Undang-undang Lalu-lintas Jalan Raya !
RG tersebut bisa berupa “tengkorak” bertuliskan “Awas Kawasan Angker, Kurangi Kecepatan” dan kalau perlu dilengkapi juga “Bunyikan Klakson” !

Siapa tahu, kawasan-kawasan angker nantinya, secara kreatif-inovatif-intuitif bisa kita ‘sulap’ jadi Objek-Wisata Spiritual, terutama bagi para ‘pemburu roh halus’ --- dengan kamera, syukur ‘Handicam’ canggih ! Siapa tahu, di tempat tersebut terpendam juga harta-karun !!***


RM Pradiko Reksopranoto
Pencipta Bridge Wayang
Jalan Sultan Agung 65 & 69
Wartel 69, Telefax 555933
Yogyakarta 55111
Tab. Mandiri 137.0088038977


BATIK PARANORMAL BRIDGE WAYANG “Hari-Ratna”, Ta :

Ace of Spades ( S-A ) = Gunungan,
King of Hearts ( H-K ) = Prabu Suyudana, Queen of Diamonds (D-Q) = Srikandi dan Jack of Clubs (C-J) = Bagong.
S-King = Prabu Kresna, D-King = Prabu Salya, C-K = Prabu Yudistira.
S-Queen = Dewi Kunti, H-Q = Banowati, C-Q = Dewi Drupadi.
S-Jack = Semar, H-J = Gareng, D-J = Petruk. Batik S-A hitam-putih = cukup !

Sukses-, Ramai- & Unikkan HUT ke 50 Gabungan Bridge Seluruh Indonesia !
GABSI didirikan di Surabaya, 12 Desember 1953 !

Hubungi Bung Hari Sunaryanto, Jl. Semeru IX / 2, Kalangbret 66261, Tulungagung,
Tel 0355-328653, Fax 322218 !!
Tabungan Mandiri 144.0002209762.



Titi Karsa (Iqra) Temu Karsa :
Ironi BIN Ungguli STPDN !


ERUPSI pers STPDN tak kalah dengan erupsi dahsyat beruntun Gunung Api Pinatubo (Pilipinas) --- setelah sekitar enam abad ‘istirahat’ ! “Buruk Muka Cermin (Pers) Dibelah” berkumandang di pelbagai media masa. Beberapa ‘singkatan baru’ pun muncul ! STPDN = Sekolah Tinggi ‘Pembunuh’ Dalam Negeri ! Lain orang tak mau kalah : “Sekolah Tawuran-Pelajar Dalam Negeri” ! Anda mungkin punya ‘kepanjangan’ lainnya --- sumonggo !
Virus erupsi dalam STPDN, sedikit banyak telah ditebarkan jauh sebelumnya ! ‘Well-planned-ly’, oleh mereka yang ‘tak-suka’ atau merasa ‘dirugikan’ oleh bakal-jayanya Nus(w)antara, ASEAN, atau “Mabuhay Nusantara” di masa-masa mendatang !

Resep utamanya, me- “Yes-Man Oriented-kan” --- atau ‘kasarnya’, “Narkobakan” atau “Setanoaktif (P Plus)-kan” --- SisDikNas !!
Ini bisa “dilengkapkan’ dengan penebaran virus ‘ironi-abadi’ ke dalam BIN (Badan Inteligen Nasional atau Negara) : Virus-virus “Dosomuko 5-2-4.3” (USA-Pentagon-CIA.Mafia) telah “Intelmejen” kan bahkan jauh sebelum “INDia Of NEtherlands State(s) In Asia” --- Logan (“4”) dan Bastian (“3”) --- merdeka ! Praktis seluruh prestasi TNI kita hanya berupa sukses “perangi bangsane dhewek” ! Ironis !! ***


RM Pradiko Reksopranoto
Pencipta Bridge Wayang &
Sri Hatono Atmosekarto
Jalan Sultan Agung 65 & 69
& Gunungketur PA 2 / 423
Yogyakarta 55111
Telefax “Wartel 69” 0274-555933
Tabungan Mandiri 137.0088038977

USA = 21+19+1 = 41 = 4+1 = “5”. CIA = 3+9+1 = 13 = 1+3 = “4”.
Pentagon = 16+5+14+20+1+7+15+14 = 92 = 9+2 = 11 = 1+1 = “2”
Mafia = 13+1+6+9+1 = 30 = 3+0 = “3” ! (Key : A=1, B=2, C=3 dst.)



Titi Karsa (Iqra) Temu Karsa :
Kans P S I M Ungguli MuRI Persik !


ANDAIKAN DR HC Jaya Hartono, kelahiran Medan, partner Fandy Ahmad (Bawean, Singapura) juarakan berulang Niac-Mitra 1980-an --- dengan > 70 VP % --- jadi “Ketua Kehormatan” PSMS Medan dan Sekitarnya, boleh jadi, dengan toleransi ilmiah ngetopnya, Jaya Hartono akan ‘surprise’ : “Biarkan Persim Maros ‘telan kemenangan’ 1-0
--- atas PSMS ! Dan anggap saja Kompetisi 8-Besar PSSI Divisi Satu sudah berakhir ! Juara I dan II tetap Persebaya dan Pesela ! Jelas hemat waktu, biaya dan tenaga !!”

Selanjutnya, saya ber Metamatika : “Siapa tahu, PSMS dan PSIM akan berhasil kiprah di Divisi Utama, dan salahsatunya bisa jadi ‘Scudetto’ = Juara ! Alias, ungguli Persik yang ber ‘start’ dari Scudetto Divisi Satu 2002 itu ! Yakinlah !!”

Perlu kami tambahkan, Persik capai gelar Scudetto dengan VP % terendah (!) : 67 VP dari 114 VP ( VP = Victory Point = Biji Kemenangan ) alias hanya 58,77 % !!
Ini jelas, ‘layak’ MuRI --- lengkapi “Dwi Treble Scudetto” Jatim 2002 (Petrokimia Putra, Persik, Persid) dan 2003 (Persik, Persebaya, Persekabpas !!

Dan jangan lupa : Box-office kan Paperback mewahnya segera ! Lengkap dengan nomor telepon dan faximil Sekretariat kelima atau keenam (termasuk Persela) ‘pengukir sejarah’ sepakbola Jatimnya sekali ! ***



RM Pradiko Reksopranoto
Jalan Sultan Agung 65 & 69
Telefax “Wartel 69” 555933
Yogyakarta 55111
Tabungan Mandiri 137.088038977


Titi Karsa (Iqra) Temu Karsa :
DR HC “Persik” Jaya Hartono
Go Surabaya 2005 SEA Games
Adu Penalti 2 x 22 Kick !!


COKORSAWATI 13” x 6” Ibu, Maluku Utara ‘dibingungkan’ Box Office 100-halaman, Rp 20.000 Paperback lux Persik Sang Juara : dengan alamat lengkap Sekretariat Persik nya : Jalan Diponegoro 7, Kediri (64123), tel. 0354-686690 saja ! Nomor fax, kapan ? (Penulis = keponakan Alm. Bp. R. Soeyoso, Jl. Diponegoro 9, Kd ! ).

Berpostur ‘bangkok-kekar’ tapi cerdas dan bakat-radiestesia pada alas-kaki kirinya, seusai unjuk prestasi unggul-mutlak lintas-alam gunung & lembah dia dilahirkan di tempuran kali --- objek-wisata ‘bikin Anda ketagihan’ --- dia juga ‘grandslam’ tak kalah nyentrix :

“DR HC kan Jaya Hartono ! Plus, NgeTop-nya, berikan juga Jaya Hartono ‘tugas-mulia’ = Sukseskan SEA Games Surabaya 2005 mendatang ! Andai dana belum cukup, kami justru untung! Biaya SEA Games Surabaya jauh di bawah PON XV !
Surya SEA Games demo & konteskan New Events saja : Adu Penalti 2 x 17 Kick atau 2 x 22 Kick --- misalnya !”

Dokter Haji Agus Usmansyah (0251-311474, Bogor) usul unik : “Demo & Konteskan Pingpong Balap alias Precision Pingpong : Gamewatch & Counter Frekuensi ulang-alik bolanya itu. Bisa sekitar 150 pukulan (beats) semenitnya ! Frekuensi bolanya bisa kita catat seeksak atletik, renang, tembak dll ! Kontes Events-nya bisa 10-menitan, 20-menitan atau 15-menitan. Bisa singles atau doubles ! Bisa men, women atau mix-pair !”

Selain konteskan Catur dan Bridge, Surya SEA Games demo Sekak Pingpong, Badminton & Volleyball : Tiadakan Rubber Sets, Totalpoint-Scoringkan Set-1 dan Set-2, Victory Point (VP)-kan lantas Swiss Movements-kan turnamen-turnamennya itu !

Basketball & Volleyball kita ‘tinju’ : Klasifisir menurut tinggi-badan pesertanya itu ! S3 Olahraga pun ‘sulit’ cerna ide “toepinch-endplay” Cokorsawati ? IQ, SQ atau TQ nya > 170. Toepinch tangkas & kilat mautnya, cekik-leher & lumpuhkan thok-cer ular-bisa sampai 3-4 feet, bisa > 2.000 PSI (>136 kg/cm2), cukup mudah pecah cangkang biji kemiri, detikan !!

Tanggapi berulangnya Sukses Treble-Champ Sepakbola Jatim,
Dr. Usmansyah usul terbitkan buku ‘serupa’ : buat at least The Six ‘Lucky’ Jatim Teams combined : Petrokimia Putra-Persik-Persid (2002) & Persik-Persebaya (plus Pesela)-Persekapas (2003) !
Dan, lampirkan juga Sukses Jatim = Juara Umum PON XV (2000) lalu : Raih >100 medali emas, >100 perak & >100 perunggu !
Plus, juga Juara Sepakbola PON !! ***



<

Friday, October 17, 2003

PENULIS SURAT PEMBACA,SE-INDONESIA, BERGABUNGLAH !
(Dikirimkan ke Suara Merdeka dan Solopos, 17/10/2003)



Majalah internasional Time (6/4/1992) pernah memuat profil seorang epistoholik, istilah manis untuk seseorang yang hobi atau “kecanduan” menulis surat pembaca di pelbagai media massa. Tokoh unik dan mengesankan itu adalah Anthony Parakal (60 tahun) dari India yang sudah melakoni hobinya sejak tahun 1953. Saat ia muncul di Time, koleksi surat pembaca karyanya sudah mencapai : 3.760 surat !

Adakah penulis surat pembaca di Indonesia yang memiliki rekor mendekati angka setinggi itu ? Antara lain untuk mengetahui prestasi semacam, saya sebagai seorang epistoholik berharap para penulis surat pembaca di Indonesia sudi bergabung dalam jaringan Epistoholik Indonesia (EI) yang sedang dirintis pendiriannya. Seperti halnya karakter sebuah network, jaringan, ini bukan organisasi formal. Semangatnya egaliter, sebagai wahana bersosialisasi, bertukar gagasan, berazaskan saling asah-asih-asuh. Saya angankan, nanti kita bersama mampu menyusun direktori berisi data diri warga jaringan, spesialisasi minat masing-masing, sampai upaya membuat album elektronik untuk seluruh karya-karya surat pembaca tiap-tiap anggota jaringan, baik yang telah dimuat atau pun yang tidak dapat dimuat, yang dapat diakses peminat setiap saat.

Aktivitas menulis adalah intellectual exercise yang berguna bagi kebugaran otak, menyehatkan rohani dan jasmani, baik sekali dilakukan oleh siapa saja tidak memandang usia. Aktivitas menulis adalah upaya pembelajaran sepanjang hayat bagi setiap individu, yang seharusnya digencarkan sejak SD hingga PT kita. Kolom-kolom surat pembaca di media adalah salah satu wahana penting untuk tujuan mulia itu.

Untuk memperoleh info awal realisasi gagasan ini, silakan Anda kirimkan e-mail ke alamat saya, berisi data diri peminat, satu contoh surat pembaca Anda yang pernah dimuat, dan usulan/harapan Anda.

Terima kasih, selamat bergabung dalam keluarga jaringan Epistoholik Indonesia !

Bambang Haryanto
E-mail : humorline@plasa.com
P.S. Di bawah ini beberapa surat pembaca saya beberapa bulan terakhir.


REUNI DENGAN MANTAN MURID
GARA-GARA TULISAN DI INTISARI !

(Dikirimkan ke Redaksi Intisari, 10/10/2003).



Dengan hormat,

Salam sejahtera. Saya tertarik atas artikel yang menarik dari Sdr. Sri Hastjarjo, mahasiswa Universitas Newcastle, Australia, yang dimuat di Intisari (Oktober 2003). Like father, like son. Kalau saya tak salah ingat, ayah dari Sri Hastjarjo itu dulu juga sering menulis di Intisari. Beliau adalah Prof. Dr. Sri Hastanto, Skar.

Saya mengenal Sri Hastjarjo, walau besar kemungkinan ia tidak mengenal.diri saya. Atau sudah lupa. Kejadiannya memang sudah lama, di tahun 1979-1980. Saat itu saya sebagai organisatoris (pimpinan) workshop melukis anak-anak Gallery Mandungan depan Kraton Surakarta. Ada ratusan anak-anak yang ikut serta, dan salah satunya adalah Sri Hastjarjo itu. Kami pernah memamerkan karya lukisan Dian Kurniasih, pelukis cilik Yogya yang sohor saat itu, di sanggar kami. Foto Dian (berdiri dekat lukisannya) dan para anak didik kami, terdapat dalam attachment. Sedang sosok Sri Hastjarjo nomor empat dari kanan (bersepatu merah).

Menyambung cerita dia mengenai keajaiban Internet, maka bersama ini saya mohon agar sudilah kiranya Redaksi Intisari mem-forward surat ini dan 2 foto tersebut kepada e-mailnya Sri Hastjarjo. Moga-moga bisa menjadi kejutan yang menggembirakan dia di rantau orang !

Terima kasih, Intisari.

Oh ya, bulan September 2003 lalu Intisari hadir dengan laporan utama mengenai strategi berburu pekerjaan. Menyusul heboh berdesak-desakannya para pencari kerja di acara Bursa Kerja Career Days 2003 di Hotel Kartika Chandra (15/7/03), sajian Intisari itu berniat mulia.

Tetapi menurut saya, maaf, pendekatan Intisari masih klasik, konvensional. Yaitu bahwa hal pertama dan utama dari strategi cari kerja harus dimulai dari surat lamaran. Pada hal, seperti kata Carole Hyatt (penulis buku Shifting Gears : Mastering Career Change), bahwa 99 persen pencari kerja itu kesulitan menulis resume/cv dan surat lamaran. Hal konvensional lainnya adalah, berburu kerja harus melalui sumber rujukan iklan-iklan lowongan. Tom Jackson, pakar strategi berburu pekerjaan (penulis buku Guerrilla Tactics In The New Job Market) bilang, lowongan yang masuk iklan hanya 15 persen, sisanya 85 persen justru tersembunyi. Karena mayoritas pencari kerja melulu terkonsentrasi merubungi roti 15 persen yang memang nampak di depan mata itulah maka timbul anggapan bahwa persaingan mencari kerja itu sangat ketat dan lowongan kerja teramat langka. Padahal yang benar : pencari kerja itu banyak, tetapi sebenarnya lowongan kerja juga banyak !

Untuk meluruskan persepsi-persepsi yang salah kaprah dan keliru dalam berburu pekerjaaan, kini saya sedang menulis buku tentang hal itu. Dan apabila suatu saat nanti Intisari ingin menulis lagi bab kiat-kiat sukses job hunting, atau menyediakan kolom regular tersendiri, saya bersedia membantu dengan tulisan, semampu saya.

Moga obrolan ini bermanfaat. Terima kasih untuk atensi dan bantuan Anda.


Hormat saya,


Bambang Haryanto
Pemegang Rekor MURI
Sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli.
Menulis buku Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati (dalam pertimbangan penerbit).



BUDAYA MEMBACA MASIH DI AWANG-AWANG
(Dimuat di Suara Merdeka, 3/10/2003)


Saya terkesan dengan artikel yang berjudul sama dengan surat ini, yang ditulis Muh. Muslih (Suara Merdeka, 3/9/2003). Budaya membaca memang masih memprihatinkan pada masyarakat kita. Hal ini sangat mengherankan, apakah memang pendidikan kita selama ini tidak mampu membekali peserta didiknya untuk menyukai aktivitas intelektual yang disebut membaca itu ? Kalau pendidikan gagal dalam hal vital ini, lalu apa yang bakal jadi bekal bagi peserta didiknya dalam mengarungi masa depan yang penuh guncangan dan perubahan sangat cepat itu ?

Konsultan karier Carole Hyatt dalam bukunya Shifting Gears : Mastering Career Change and Find the Work That’s Right for You (1990), menulis bahwa begitu lulus PT maka ilmu para wisudawan itu sebenarnya telah daluwarsa. Agar setiap individu selalu mutakhir ilmunya, dirinya dituntut untuk terus-menerus belajar. Dan satu-satunya cara belajar itu adalah dengan membaca .Bagaimana budaya membaca ditumbuhsuburkan ?

Menurut hemat saya, salah satunya adalah dengan menumbuhkan budaya menulis pada anak-anak sejak dini. Jadi, menumbuhkan budaya baca saja tidaklah cukup. Ajak dan dorong anak-anak untuk menulis puisi, menceritakan pengalamannya secara tertulis, dan memajang karyanya di majalah dinding rumah atau sekolah. Kenalkan sejak dini untuk menggunakan komputer sebagai alat bantu menulis. Anak-anak itu lebih cerdas dalam menggunakannya dibanding kita-kita para orang tua. Dorong pula untuk menulis di kolom-kolom surat pembaca, baik di majalah anak-anak/remaja atau media massa umum.

Saya sendiri saat ini merintis gerakan serupa, dengan menampung puisi anak-anak untuk ditayangkan di situs web di Internet. Selain menyuburkan budaya menulis, anak-anak itu secara alamiah akan mengenal pula manfaat teknologi informasi. Sayang sedikit, beberapa sekolah dasar di Solo pernah saya kirimi ajakan tentang gagasan ini, ternyata belum ada yang menyambutnya Kalau Anda tertarik membangun antoloji puisi anak didik Anda di Internet, silakan kontak kami. Sertakan perangko secukupnya bila Anda mengontak melalui surat.

Mari kita budayakan membaca pada diri anak-anak lewat cara memupuk budaya menulis pada diri mereka !

Bambang Haryanto
Pemerhati Strategi Berburu Pekerjaan


JEBAKAN MITOS-MITOS MENCARI KERJA
(Dikirimkan ke Kedaulatan Rakyat, Solopos dan Suara Merdeka, 9/9/2003)

Banyak anak muda Indonesia begitu lulus kuliah mengharapkan segala jerih payahnya dalam menuntut ilmu segera dan otomatis memperoleh imbalan atau hadiah, yaitu pekerjaan. Harapan itu akan hanya sia-sia belaka. Sebab pekerjaan bukan hadiah. Ia haruslah diburu dengan segenap keteguhan hati, semangat pantang menyerah, rela berkorban dan terutama harus berbekal strategi yang rata-rata belum pernah mereka kenali, yaitu wawasan dan keterampilan berburu pekerjaan yang andal. Kebutaan atau miskinnya keterampilan vital tersebut membuat mereka selalu mudah terjebak dalam aneka asumsi yang merugikan diri mereka sendiri. Sekedar contoh, seperti diungkap oleh Sdri. Wiryanti asal Baki Sukoharjo (Solopos, 5/9/2003), telah mengeluhkan sulitnya para sarjana memperoleh pekerjaan karena ia menilai semua pekerjaan itu mengutamakan pengalaman kerja di mana para lulusan (fresh graduate) justru tidak memilikinya.

Dari interaksi dengan banyak para pencari kerja pemula, asumsi Wiryanti itu umum dijumpai. Asumsi menjebak lainnya, antara lain bahwa orang ber-IP dan ber-IQ tinggi itu pasti sukses dan mudah mendapatkan pekerjaan. Juga pendapat umum bahwa mereka yang mendapatkan pekerjaan lewat jalur koneksi adalah mereka yang prestasi akademisnya rendah dan kemampuannya kurang. Semua itu hanya mitos. Yang bukan mitos dan harus dicamkan adalah, tidak benar semua lowongan kerja membutuhkan pengalaman beberapa tahun. Tidak benar pula bahwa mencari kerja itu susah dan kesempatan kerja yang tersedia itu terbatas. Yang lebih tepat, pencari kerja memang banyak, tetapi peluang kerja juga banyak. Hanya saja, pencari kerja yang banyak itu mayoritas tidak tahu di mana peluang kerja itu berada atau ke mana harus mencarinya. Celakanya lagi, sebagian besar pencari kerja tidak mengetahui kualitas dirinya yang unik, bahkan saat wawancara pertama kebanyakan mereka tidak mampu menginventarisasi minimal 10 (sepuluh) kelebihan yang ia miliki untuk bisa dijual atau diejawantahkan sebagai aktivitas bisnis yang mampu memberikan keuntungan bagi perusahaan yang ia lamar.

Kesimpulannya, kesuksesan seseorang ditentukan oleh kejeliannya mencari peluang. Peluang selalu terbuka kalau dirinya mampu mencari dan mencuri kesempatan, dengan dukungan kreativitas dan kemampuan menyesuaikan diri secara sosial. Selain itu sukses pribadinya ditentukan juga oleh kemampuan membina sifat-sifat positif. Tom Jackson, seorang ahli strategi berburu pekerjaan dalam bukunya Guerrilla Tactics In The New Job Market (1991) memberi garis bawah nasehat di atas : It is not the most qualified person who gets the best job ; it is the person who is most skilled in job finding. Bukan seseorang dengan kualifikasi tertinggi yang bakal memperoleh pekerjaan terbaik, melainkan seseorang yang paling terampil dalam (berburu) menemukan pekerjaan. Semoga Wiryanti dan teman-teman senasibnya mampu menangkap pesan penting ini.

Bambang Haryanto
Pemerhati Strategi Berburu Pekerjaan


RCTI TIDAK BERBUDAYA !
(Dimuat di Solopos, 1 September 2003).


Acara kuis Secret Mission (SM) yang ditayangkan RCTI setiap hari Minggu Malam nyata-nyata melecehkan produk budaya yang berfungsi sebagai perekam ilmu pengetahuan manusia, yaitu buku. Pada beberapa kuis SM yang terakhir, dipaksakan ada adegan para agen diminta mencari foto-foto yang tersimpan dalam jajaran buku-buku di rak perpustakaan. Karena dibatasi waktu, maka cara “biadab” yang harus dipilih para agen SM adalah dengan memberantakkan buku-buku yang ada. Buku-buku jadi berserakan di lantai, seolah tiada harganya sama sekali.


Adegan yang ditayangkan secara nasional, menjangkau jutaan pemirsa itu, dapat memberikan sinyal yang salah terhadap buku. Juga terhadap lembaga pelestari dan diseminasi informasi, yaitu perpustakaan. Di negara Indonesia di mana budaya menulis, membaca dan membeli buku masih sangat rendah, adegan tidak berbudaya dalam kuis SM tersebut merupakan undangan untuk tidak menghargai buku. Undangan untuk terjun bebas menuju kebodohan.

Sedang perpustakaan, menurut Thomas Carlyle, (1795-1881) sejarawan dan filsuf politik Skotlandia, adalah universitas yang sebenar-benarnya masa kini. Sekadar info pula, koleksi bahan pustaka di perpustakaan disusun menurut sistematika tertentu dengan aturan yang hampir sama di seluruh dunia Tujuannya, agar mudah ditemukan kembali bila diminta untuk dibaca atau dipinjam konsumen. Dengan memberantakkan susunan yang ada berarti juga telah mem-blok akses banyak orang terhadap informasi dan ilmu pengetahuan.

Yang jadi pertanyaan, apakah fihak kreatif SM itu tidak dapat menggagas tebakan yang lebih kreatif dan lebih menantang untuk kecerdasan para agen dan terutama pula untuk para pemirsa ? Memberantakkan buku-buku di rak adalah pekerjaan mudah bagi orang yang paling bodoh sekali pun, walau ternyata pada tayangan-tayangan yang terakhir para agen SM tersebut selalu gagal menjalankan misinya setelah mengobrak-abrik bahan pustaka yang ada !

Selamat hari ulang tahun RCTI !


Bambang Haryanto
POETRYSOLO


SOLUSI KEMELUT PERSIS, PSFC DAN PASOEPATI
(Dimuat di Solopos, 21/8/2003)

Pelita Solo datang ke Solo dan pergi dari Solo karena alasan bisnis. Persijatim lalu datang ke Solo juga dengan alasan sama. Mereka merangkul Pasoepati, dan bukan dengan Persis, juga dengan alasan bisnis. Pada konstelasi terakhir ini, segitiga antara PSFC, Pasoepati dan Persis, ternyata banyak ganjelan. Ketika sebagai pemrasaran saat dilangsungkan diskusi “Kiat Hebat Menjual Persis Solo” di Hotel Kusuma Sahid (18/1/2003) sudah saya utarakan bahwa kehadiran PSFC adalah “musuh” utama Persis dalam memperebutkan atensi komunitas sepakbola di Solo. Bahkan secara kurang ajar dan nakal, saya usulkan pula saat itu agar nama Persis dilikuidasi. Lalu diganti nama lain yang lebih marketable dan berorientasi ke masa depan, demi upaya memenangkan perang perebutan atensi itu. Alasan pergantian nama itu telah saya tulis dalam buku Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati yang kini dalam pertimbangan penerbit.

Saat itu, ketika forum membincangkan problem berat Persis (baca : dana !), saya ingat Ketua Umum Persis hanya memberikan sasmito, tidak berterus terang dan lugas, menyatakan bahwa sebenarnya Persis membutuhkan dukungan PSFC, fihak yang saat itu hanya diwakili para pentolan Pasoepati yang merupakan Panpel PSFC. Warning Ketua Umum Persis ini rupanya tidak sampai ke sasaran. Saya tidak tahu, apakah sesudah diskusi itu lalu ada rembugan lanjutan yang serius antara kedua belah fihak itu. Tetapi mencermati kiprah Pasoepati selama jadi Panpel yang ternyata belum menerapkan transparansi untuk warganya sendiri, maka saya kira mereka juga tidak ada kontak dengan Persis untuk mencari jalan terbaik guna tercapainya tujuan mengembangkan sepakbola Solo dengan pendekatan win-win antara mereka. Sebab tahu-tahu, kita terkaget, dengan meledaknya pernyataan Walikota agar PSFC hengkang dari Solo seusai LI 2003.

Apakah keputusan ini sudah final, tak ada diskusi lagi ? Saya tidak tahu. Tetapi kalau saya boleh usul, dari kacamata seorang suporter, dalam menyikapi kemelut ini sebaiknya Pasoepati legowo dan mau berkorban. Kuncinya, mau kembali ke khittah semula, Pasoepati sebagai suporter sejati saja. Jangan tanyakan apa yang bisa Solo berikan pada kita, tapi tanyakan pada diri apa yang bisa kita berikan untuk Solo tercinta !

Bisnis ke-panpel-an seyogyanya diserahkan menjadi proyeknya Persis Solo. Kalau pun ada tenaga Pasoepati yang ingin terus mencari rejeki jadi panpel, silakan, tetapi masuklah melalui koridor dan atas nama Persis Solo. Bukan atas nama Pasoepati. Lalu, silakan Persis Solo, PSFC, Pemkot dan DPRD, duduk satu meja, mencari jalan terbaik untuk semua fihak, satu momen penting yang selama ini rasanya belum pernah terjadi. Saya berharap, usulan di atas akan baik bagi Pasoepati, Persis dan Solo FC di hari-hari mendatang. Kalau PSFC tak jadi pergi, Pasoepati juga tidak jadi mati, bukan ?

Umpama usulan ini tidak menjadi kenyataan, saya tidak apa-apa. Hanya sangat menyayangkan, bila perginya PSFC nanti harus ada yang merasa luka hati. Sebab Persis Solo yang kini lagi menggeliat kecil, di masa depan bebannya akan tambah berat. Dalam menyangga beban berat, alangkah baiknya, bila fihak Persis bercakrawala pemikiran sebagai insan olahraga yang lebih menasional, bukan sebagai politikus dengan Soloisme yang sempit, dengan lebih dini dan intensif menggalang network, teman, sahabat dan bukan membuat musuh-musuh baru yang tidak perlu. Seribu teman kurang banyak, satu musuh itu sudah terlalu banyak !

Suka atau tidak suka, di jajaran PSFC toh terdapat jaringan personil yang lebih dulu malang-melintang di sepakbola di Indonesia. Sehingga jauh lebih baik bila mereka nanti berdiri di belakang kita pada saat Persis membutuhkan bantuan atau advokasi, ketimbang mereka hanya sebagai fihak yang pernah kita sakiti yang suatu saat tergoda “bayar utang” yang tak perlu atas hal-hal yang pernah kita lakukan terhadap mereka walau atas nama heroisme, demi Solo atau Persis sekali pun !


Bambang Haryanto
Suporter Pasoepati
Sedang merampungkan buku
Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati




SATU PEKERJAAN, 1.470 SURAT LAMARAN !
(Dikirimkan ke Kompas, Kedaulatan Rakyat, Solopos dan Suara Merdeka,
Senin, 21 Juli 2003)


Membeludaknya pencari kerja dalam Pameran Bursa Kerja Career 2003 (Kompas, 16/7/2003), merupakan cerminan buruknya kepedulian lembaga pendidikan kita terhadap para lulusannya. Lembaga pendidikan hanya nampak kemaruk merekrut calon-calon mahasiswa, lalu berusaha cepat-cepat meluluskannya (termasuk menghapus ketentuan menulis skripsi), tetapi tidak membekali peserta didiknya dengan keterampilan menyiasati tuntutan dunia nyata. Apakah lembaga pendidikan kita telah membekali calon lulusannya, misalnya dengan strategi dan keterampilan berburu pekerjaan secara memadai dan sesuai tuntutan jaman ?

Membeludaknya pencari kerja dalam acara bursa kerja tadi, yang tidak lebih merupakan arena perjudian nasib belaka, sekaligus menunjukkan rendahnya penguasaan metode ilmiah yang pernah mereka reguk di bangku pendidikan untuk diaplikasikan di dunia nyata. Sebab, strategi berburu pekerjaan seharusnya dilakukan secara sistematis, persis seperti halnya ketika mereka menulis skripsi. Diawali dari tahap atau langkah penentuan topik skripsi (dalam langkah berburu pekerjaan adalah melakukan self-assessment guna menentukan sasaran pekerjaan yang sesuai bakat, minat, temperamen dirinya pribadi, cita-cita), meriset literatur (meriset kualifikasi pekerjaan sampai detil informasi pelbagai perusahaaan sasaran), pengumpulan data (wawancara dengan karyawan yang pekerjaan atau karirnya ingin diterjuni, menggalang networking), sampai ujian skripsi (tes wawancara kerja).

Metode sistematis yang lebih agresif dan efektif ini, tidak berbau main untung-untungan. Teknologi komunikasi dan informasi, kini juga tersedia untuk digunakan. Peluang keberhasilannya pun jauh lebih besar, dibandingkan misalnya dengan metode membalas iklan-iklan lowongan di koran-koran. Sebab lowongan yang muncul dalam iklan senyatanya hanyalah 15 persen dari seluruh lowongan yang tersedia. Apalagi statistik menunjukkan, dengan mengandalkan surat lamaran semata maka pekerjaan akan diperoleh bagi mereka yang telah mengirimkan 1.470 pucuk surat lamaran. Apabila dirinya setiap hari mengirim sepucuk surat lamaran, maka waktu yang dibutuhkan adalah 4 tahun lebih. Kemudian, apabila satu pucuk surat lamaran menghabiskan biaya Rp. 10.000,00 maka dibutuhkan biaya sebesar Rp. 14.700.000,00 !

Berburu pekerjaan bermetode ilmiah seperti dianjurkan para pakar strategi berburu pekerjaan kelas dunia seperti Richard Nelson Bolles, John Crystal, Tom Jackson, Daniel Porot, Carole Hyatt, Marilyn Moats Kennedy, John Truitt, Jason Robertson, Paul Hellman, membekali tiap diri pencari kerja dengan keyakinan baja. Bahwa diri pencari kerja adalah pemecah persoalan, problem solver, bagi perusahaan yang diincarnya. Sayang sekali, mayoritas pencari kerja suka mendudukkan diri hanya sebagai fihak pencipta persoalan, problem maker, pengemis pekerjaaan. Mereka-mereka itu tidak mampu mengenali dirinya sendiri, tidak mengenali kelebihan atau pun kekurangannya, juga tak tahu menahu tentang tuntutan pekerjaan atau pun bisnis inti perusahaan sasaran, yang lajimnya terwakili oleh pribadi-pribadi pencari kerja dengan metode usang dan tradisional. Termasuk di dalamnya sebagian besar, mereka yang mengundang iba karena rela terjun dalam hiruk pikuk berburu kerja di tengah bursa tenaga kerja yang heboh, yang tidak lebih merupakan upaya jalan pintas yang sangat sarat aroma perjudian nasib semata !

Bambang Haryanto
Pemerhati Strategi Berburu Pekerjaan






HARI-HARI SEPAKBOLA INDONESIA (KEMBALI) MATI(Dikirimkan ke Tabloid BOLA, Juni 2003)

Apa yang salah dari sepakbola Indonesia ?

Dari daftar keluaran FIFA bulan Juni 2003, Indonesia berada di peringkat 89. Di atasnya Thailand, 65, dan jangan coba bandingkan dengan Jepang atau Korea Selatan yang sudah kelas dunia. Keduanya sama-sama nangkring anggun di peringkat 24. Tetapi peringkat itu bagi Indonesia tidak ada artinya sama sekali. Bahkan anomali.

Terbukti, timnas U-23 Pra-Olimpiade Athena digusur tim lemah Lebanon dengan agregat 2-5, bulan Juni 2003 lalu. Padahal Lebanon hanya berperingkat 121. Lalu timnas U-18 kita juga gagal dalam turnamen ASEAN Football Federation (AFF) 2003 di Ho Chi Minh City, Vietnam. Timnas itu hanya menang 1-0 atas Kamboja (peringkat 170) dan Filipina (184), tetapi dibantai 0-3 tuan rumah Vietnam yang sebenarnya juga berperingkat lebih rendah (95).

Ironi terbaru meledak pada Kejuaraan Sepakbola Liga Champions ASEAN LG Cup 2003, di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Wakil Indonesia, Persita Tangerang dan Petrokimia Putra, disingkirkan oleh satu tim yang sama, Kingfisher East Bengal (India) dengan 1-2 dan 7-8 pada perempat final dan semifinal. Dari tayangan televisi nampak kedua tim wakil Indonesia itu benar-benar kalah kelas, juga kalah cerdas, walau India dalam peringkat FIFA sesungguhnya berada pada nomor 129. Atau 40 tingkat di bawah Indonesia. Itulah, kita tak bisa tutup mata, kesebelasan wakil-wakil Indonesia berguguran, digusur habis oleh tim-tim asal negara yang dalam peringkat FIFA justru berada di bawah kita. Mengapa hal buruk itu terjadi ? Mungkinkah FIFA begitu goblog dalam menentukan peringkat Indonesia yang senyatanya ?

Cermin lain yang mungkin lebih akurat untuk melihat bopeng diri sendiri adalah data terbaru keluaran UNDP (Program Pembangunan PBB) mengenai peringkat pembangunan manusia 2003. Terkuak, Indeks Pembangunan Indonesia berada pada nomor 112 dari 175 negara. Di Asia Tenggara, Indonesia terpuruk di bawah Thailand (74), Filipina (85) dan Vietnam (109), walau masih di atas Kamboja (130) atau pun Myanmar (131).

Pembangunan manusianya terpuruk, demikian pula sepakbolanya. Hari- hari menyedihkan, hari-hari sepakbola Indonesia mati, masih saja belumlah usai sampai hari ini.


Bambang Haryanto
humorline@hotmail.com


This page is powered by Blogger. Isn't yours?